Sabtu, 12 November 2016

Data Sekunder

Data sekunder adalah merupakan pendekatan penelitian yang menggunakan data-data
yang telah ada, selanjutnya dilakukan proses analisa dan interpretasi terhadap data-data
tersebut sesuai dengan tujuan penelitian.
pertanyaan pertanyaan untuk mngidentifikasi data sekunder :
 1) Apakah kita memerlukan data sekunder dalam menyelesaikan masalah yang
akan diteliti?
 2) Data sekunder seperti apa yang kita butuhkan? Identifikasi data sekunder yang
kita butuhkan akan membantu mempercepat dalam pencarian dan penghematan waktu serta
biaya.
Data sekunder dapat dipergunakan untuk hal-hal sebagai berikut:

  • Pemahaman Masalah:Data sekunder dapat digunakan sebagai sarana pendukung untuk memahami masalah yang akan kita teliti.
  • Penjelasan Masalah: Data sekunder bermanfaat sekali untuk memperjelas masalah danmenjadi lebih operasional dalam penelitian karena didasarkan pada data sekunder yang tersedia,kita dapat mengetahui komponen-komponen situasi lingkungan yang mengelilinginya.
  • Formulasi Alternative-Alternative : Penyelesaian Masalah yang Layak,sebelum kita mengambil suatu keputusan, kadang kita memerlukan beberapa alternative lain. Data sekunder akan bermanfaat dalam memunculkan beberapa alternative lain yang mendukung dalam penyelesaian masalah yang akan diteliti.. Dengan semakin banyaknya informasi yang kitadapatkan, maka peneyelesaian masalah akan menjadi jauh lebih mudah.
  • Solusi Masalah: Data sekunder disamping memberi manfaat dalam membantu mendefinisikan dan mengembangkan masalah, data sekunder juga kadang dapat memunculkan solusipermasalahan yang ada.

 Cara-cara pengambilan data dapat dilakukan secara manual,
online dan kombinasi manual dan online.
  • Pencarian secara manual bisa menjadi sulit jika kita tidak tahu metodenya, karena banyaknya data sekunder yang tersedia.Cara yang paling efisien ialah dengan melihat buku indeks, daftar pustaka,referensi, dan literature yang sesuai dengan persoalan yang akan diteliti. Data sekunder dari sudut pandang peneliti dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu :
    1. data internal yaitu data yang sudah tersedia di lapangan; Data internal dapat dibagi dua sebagai sumber informasi yang berasal dari database khusus dan database umum. Data base khusus biasanya berisi informasi penting perusahaan yang biasanyan dirahasiakan dan tidak disediakan untuk umum, misalnya, data akutansi, keuangan, sdm, data penjualan dan informasi penting lainnya yang hanya boleh diketahui oleh orang-orang tertentu di perusahaan tersebut. Sebaliknya, database umum berisi data yang tidak bersifat rahasia bagi perusahaan dan boleh diketahui oleh umum. Data jenis ini biasanya dapat diketemukan di perpustakaan kantor /perusaahaan atau disimpan dalam komputer yang dapat diakses secara umum.
    2. data eksternal yaitu data yang dapat diperoleh dari berbagai sumber lain.Data eksternal dapat dicari dengan mudah karena biasanya data initersimpan di perpustakaan umum, perpustakaan kantor-kantor pemerintah atau swasta dan universitas, biro pusat statistik dan asosiasi perdagangan, dan biasanya sudah dalam bentuk standar yang mudah dibaca, seperti petunjuk penelitian, daftar pustaka, ensiklopedi, kamus, buku indeks, buku data statistik dan buku-buku sejenis lainnya.
  • Pencarian secara online memberikan banyak keuntungan bagi peneliti, diantaranya ialah:
    1.  hemat waktu: karena kita dapat melakukan hanya dengan duduk didepan komputer.
    2. ketuntasan: melalui media Internet dan portal tertentu kita dapat mengakses secara tuntas informasi yang tersedia kapan saja tanpa dibatasi waktu, 
    3. Kesesuaian: peneliti dapat mencari sumber-sumber data dan informasi yang sesuai dengan mudah dan cepat, 
    4. hemat biaya: dengan menghemat waktu dan cepat dalam memperoleh informasi yang sesuai berarti kita banyak menghemat biaya.
  • Keuntungan Penelitian Sekunder
    1. Murah.
    2. Data dapat dikumpulkan/didapatkan dengan cepat
    3.  Dapat belajar dan mengerti kejadian di waktu lampau
    4. Akan dapat meningkatkan pengetahuan melalui replication dan menambah jumlah sampel.
    5. Pada penelitian sosial, dapat memahami perubahan social (social change)
  • Kerugian Penelitian Sekunder
    1. Keakuratan data tidak terjamin hasil interpretasi peneliti sebelumnya
    2. Data yang tersedia kadang tidak sesuai dengan kebutuhan.
    3.  Unit pengukuran yang berbeda.
    4. Usang (tidak up-to-date).
  • mencari data sekunder yang diterbitkan/dipublikasikan.
         beberapa sumber umum yang penting pada data sekunder, diantaranya adalah:
  1. Asosiasi. Asosiasi mengumpulkan dan mempublikasikan informasi yang terinci tentang hal-hal seperti pengiriman dan penjualan industry, pola pertumbuhan, factor faktor lingkungan yang mempengaruhi industry, karakteristik operasi, dan sejenisnya.
  2.  Pedoman umum data sekunder. Sumber untuk mencari informasi tentang topic tertentu adalah pedoman umum atas data sekunder, misalnya daftar sumber data Encyclopedia of Business Information Sources dalam industry peralatan listrik.
  3.  Pencarian melalui computer secara online. Pencarian melalui computer secara online semakin popular dalam mencari informasi dan data yang dipublikasikan dalam 20 tahun terakhir, ketika system penyimpanan database yang dapat dibac oleh computer tersedia didalamnya.
DAFTAR PUSTAKA
1. Churchill, Gilbert A. 2005. “Dasar-Dasar Riset Pemasaran”, Edisi 4, Jilid I, Alih
Bahasa Oleh Andriani, Dkk, Penerbit Erlangga, Jakarta.
2. R. Soedijono. 2008. Suplemen Kuliah: “Metode Riset Bisnis”. Universitas
Gunadarma. Jakarta.
3.http://toswari.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/32250/5+Sumber+Data.pdf

Jumat, 04 November 2016

PENG.TEKNOLOGI SISTEM CERDAS
kelompok :
1.Annazma ghazalba
2.fachrial
3.M.fathur
4.M.fauzan setiaji
4.Melinda novianti
5.Rezal wahyu ramadhan
6.Rossalia ertiwidya


"TEKNOLOGI MOBIL TANPA MENGGUNAKAN KUNCI"

Teknologi mobil tanpa menggunakan kunci merupakan suatu teknologi yang akan kami buat untuk memberikan keamanan dan kenyamanan bagi si pemillik mobil,karna seperti yang kita ketahui.saat ini angka pencurian mobil sangat sering terjadi,dan penyebab yang umum dikeluhkan oleh pemilik adalah kurangnya keamanan pada mobil mereka,nah disini kami mencoba  untuk membuat teknologi mobil tanpa kunci yang  menggunakan sidik jari sebagai pengganti fungsi kunci.Fungsi kunci untuk mobil biasanya sangat penting yaitu untuk membuka dan menyalakan mobil.Tapi bagaimana kalau kunci kita hilang?Atau tertinggal di suatu tempat?Bukankah tidak efektif?
Dan pertanyaan pertanyaan seperti ini yang membuat kami tertarik untuk  memikirkan sebuah ide, bagaimana kalau sidik jari kita sendiri yang menggantikan fungsi kunci, dengan begitu pertanyaan akan segera terjawab dan keluhan dari pemilik kendaraan menjadi teratasi,selain itu fasilitas mobil tanpa kunci juga akan membuat pemilik lebih aman untuk meninggalkan mobilnya dimanapun dan kapanpun mereka mau.
-Lalu bagaimana cara kita mewujudkan hal itu?Jawabanya :yaitu dengan cara memberikan sensor fingerprint pada pintu serta stir mobil, dengan begitu fungsi kunci akan tergantikan dengan tangan kita sendiri.
-bagaimana dengan keluarga kita?Bukankah mereka juga ingin menggunakan mobil tersebut?Pada system fingerprint ini,kami  telah membuat system yang dapat mengenali maximal 7 macam sidik jari, sehingga  anggota keluarga lain pun dapat menggunakan mobil tersebut.dengan catatan sidik jari mereka sudah tersimpan pada system,sehingga system dapat mengenalinya dan akan bereaksi jika ada sidik jari lain yang mencoba membuka mobil.bagaimana cara untuk mengatasi jika terjadi pencurian?Untuk mengatasi pencurian kami juga menambahkan system keamanan berubah sensor infrared untuk mendeteksi jika terjadi sesuatu pada mobil saat ditinggalkan oleh pemilik,dan sinar infra red ini akan langsung terhubung pada smartphone pemilik mobil.
Berikut adalah respon dari system keamanan yang kami buat pada kondisi dimana kaca mobil dipecahkan  :
di kaca mobil kami  pasang sebuah sensor infra red, sehingga saat  kaca mobil dipecahkan, sensor akan  membaca lalu mengirim pemberitahuan ke smartphone kita, kemudian mobil kita akan membunyikan alarm dengan keras,dan  pintu mobil  terkunci secara  otomatis sehingga mobil tak bisa dinyalakan sebelum ada konfirmasi dari smartphone kita(pemilik mobil) yang tersambung dengan perangkat keamanan itu.

- Step keamanan jika kaca mobil dipecahkan :
1. pintu mobil akan terkunci otomatis
2. sensor di kaca akan memicu alarm pada mobil
3. pesan akan terkirim pada smartphone
4. mobil tidak bisa menyala sebelum ada konfirmasi dari smartphone


- Kelebihan dari system keamanan :

1.pemilik mobil akan merasa aman meniggalkan mobil mereka saat mereka bepergian.
2.akan lebih mudah untuk menyalakan dan mengunci,karna hanya dengan sidik jari system akan otomatis mengunci mobiil sipemilik.

kelemahan dari system keamanan :

1. jika smartphone mati maka pemberitahuan tidak akan langsung terkirim
2. harus download aplikasi  untuk smartphone nya lalu di kalibrasi ke perangkat keamanan mobil nya.




Kamis, 13 Oktober 2016

PENG.TEKNOLOGI SISTEM CERDAS 

"MENGANILISIS SISTEM PAKAR UNTUK MENDIAGNOSA PENYAKIT SALURAN PENCERNAAN MENGGUNAKAN METODE DEMPSTER SHAFER"

KELOMPOK :
1.Annazma ghazalba
2.Fathur nurikhsan
3.M. fauzan setiaji
4.Melinda novianti
5.Rezal wahyu
6.Rossalia ertiwidya

Sistem Pakar
Secara umum, sistem pakar (Expert System) adalah sistem yang berusaha mengadopsi pengetahuan manusia ke komputer, agar komputer dapat menyelesaikan masalah seperti yang biasa dilakukan oleh para ahli. Untuk pembangun sistem yang seperti itu maka komponen-komponen dasar yang minimal harus dimiliki adalah sebagai berikut:
1. Antar muka (user interface),
2. Basis pengetahuan (knowledge base), ada 2 bentuk pendekatan basis pengetahuan yang sangat umum digunakan, yaitu:
  1. Penalaran berbasis aturan (Rule-Based Reasoning) pada penalaran berbasis aturan, pengetahuan direpresentasikan dengan menggunakan aturan berbentuk: IF-THEN. Bentuk ini digunakan apabila kita memiliki sejumlah pengetahuan pakar pada suatu permasalahan tertentu, dan pakar dapat menyelesaikan masalah tersebut secara berurutan.
  2. Penalaran berbasis kasus (Case-Based Reasoning) pada penalaran berbasis kasus, basis pengetahuan akan berisi solusi-solusi yang telah dicapai sebelumnya, kemudian akan diturunkan suatu solusi untuk keadaan yang terjadi sekarang (fakta yang ada).
3. Mesin inferensi (Inference Engine), ada 2 cara yang dapat dikerjakan dalam melakukan inferensi, yaitu:
  1. Forward Chaining (Pelacakan ke depan)
Pencocokan fakta atau pernyataan dimulai dari bagian sebelah kiri (IF dulu).Dengan kata lain, penalaran dimulai dari fakta terlebih dahulu untuk menguji hipotesis.
  1. Backward Chaining (Pelacakan ke belakang)
Pencocokan fakta atau pernyataan dimulai dari bagian sebelah kanan (THEN dulu). Dengan kata lain, penalaran dimulai dari hipotesis terlebih dahulu, dan untuk menguji kebenaran hipotesis tersebut, harus dicari fakta-fakta yang ada dalam basis pengetahuan.

  • Pembahasan jurnal tentang sistem diagnosa penyakit pencernaan : 

        Dalam jurnal tersebut untuk mendiagnosa penyakit saluran pencernaan menggunakan dengan menggunakan metode Dempster Shafer bahasa perograman Microsoft Visual Basic 6.0.
  • Teori Dempster Shafer
Secara umum teori Dempster Shafer ditulis dalam suatu interval:
[Belief, Plausibility] (1)Belief (Bel) adalah ukuran kekuatan evidence dalam mendukung suatu himpunan preposisi. Jika bernilai (nol) maka mengidentifikasikan bahwa tidak ada evidence, dan jika bernilai 1 menunjukkan adanya kepastian [2]. Plausibility (Pl) dinotasikan sebagai :
Pl(s) = 1 – Bel(¬s) (2)
Plausibility juga bernilai 0 sampai 1. Jika kita yakin akan ¬s, maka dapat dikatakan bahwa Bel(¬s)=1, dan Pl(¬s)=0. Pada teori Dempster Shafer kita mengenal adanya frame of discernment yang dinotasikan dengan θ. Frame ini merupakan semesta pembucaraan dari sekumpulan hipotesis.
Tujuan kita adalah mengaitkan ukuran kepercayaan elemen-elemen θ. Tidak semua evidence secara langsung mendukung tiap-tiap elemen. Sebagai contoh, panas mungkin hanya mendukung {F,B,D}.
Untuk itu perlu adanya probabilitas fungsi densitas (m). Nilai m tidak hanya mendefinisikan elemen-elemen θ saja, namun juga semua subset-nya. Sehingga jika θ berisi n elemen, maka subset dari θ semuanya berjumlah 2n . Kita harus menunjukkan bahwa jumlah semua m dalam subset θ sama dengan 1. Andaikan tidakada informasi apapun untuk memilih keempat hipotesa tersebut, maka nilai:
m{ θ } = 1,0
Jika kemudian diketahui bahwa panas merupakan gejala dari flu, demam, dan bronkitis dengan m = 0,8, maka:
m{F,D,B} = 0,8
m{ θ } = 1 – 0,8 = 0,2
Andaikan diketahui X adalah subset dari θ, dengan m1 sebagai fungsi densitasnya, dan Y juga merupakan subset dari θ dengan m2 sebagai fungsi densitasnya, maka kita dapat membentuk fungsi kombinasi m1 dan m2 sebagai m3, yaitu:

Analisis kebutuhan sistem yang akan dirancang disesuaikan dengan analisis kebutuhan user. Analisis kebutuhan sistem meiputi:
  1. Data masukan (input)
Data masukan yang diperlukan data penyakit, gejala penyakit, penyebab, solusi, aturan gejala, aturan penyebab, dan aturan solusi dari penyakit. Sistem yang dibutuhkan untuk spesifikasi data masukan (input):
  1. Data penyakit diperlukan karena merupakan inti dari pengetahuan yang akan digunakan sebagai tujuan pendiagnosaan. Pada data penyakit juga disertai definisi dari penyaki.
  2. Data gejala merupakan data yang akan dipilih oleh user sebagai inputan ke sistem. Pada data gejala juga disertai dengan nilali probabilitas dari gejala tersebut.
  3. Data penyebab merupakan data yang berisi penyebab penyakit.
  4. Data solusi merupakan, data yang berisi solusi penyakt.
  5. Data aturan gejala merupakan data aturan relasi dari gejala-gejala dengan suatu penyakit.
  6. Data aturan penyebab, merupakan data aturan relasi dari penyebab-penyebab dengan suatu penyakit.
  7. Data aturan solusi merupakan, data aturan relasi dari solusi-solusi dengan suatu penyakit
  1. Data keluaran (output)
Sistem yang dirancang dapat memberikan output berupa:
  1. Dapat menampilkan kemungkinan penyakit dari hasil diagnosis.
  2. Dapat menampilkan nilai persentase penyakit.
  3. Dapat menampilkan penyebab dan solusi sesuai dengan penyakit hasil diagnosis.
  1. Proses
Data yang akan diproses menjadi hasil diagnosis bermula ketika user memilih gejala yang dirasakan, gejala tersebut akan diproses oleh sistem dengan pelacakan forward chaining berdasarkan dengan metode Dempster Shafer untuk menemukan penyakit yang diderita oleh pasien. Metode ini akan membandingkan tiap gejala dengan penyakit yang ada dan menghitung kepastiannya sampai diperoleh nilai yang tertinggi yang merupakan hasil diagnosa. Hasil proses berupa diagnosa nama penyakit yang kemungkinan diderita pasien (user) dengan nilai persentase nilai kepastian penyakit tersebut.

Opini :
Menurut kami untuk meningkatkan program analisa penyakit saluran pencernaan diperlukan penataan struktur program berdasarkan tuntutan kebutuhan program tersebut.
Program ini juga masih banyak kekuranganya dan masih perlu ditingkatkan lagi untuk kebutuhan program berikutnya. bagi yang berminat membuat program ini dapat menggunakan pendekatan output, yaitu mengukur banyaknya inputan yang masuk berdasarkan ketepatan dalam analisa dan tingkat kepuasan masyarakat.
Untuk meningkatkan kinerja program ini perlu diadakan penelitian lebih lanjut, karna program ini sangat di butuhkan orang banyak dan menolong mereka mendeteksi penyakit mereka.


Jumat, 03 Juni 2016

Tugas : Point Of Sale & Accounting Software (BeeAcounting)


Pengertian Bee Acouting
Bee Accounting adalah software aplikasi manajemen bisnis yang  fleksibel dan mempunyai stabilitas yang tinggi. Bee Accounting bisa digunakan di dalam sistem operasi Windows,Linux dan Mac OS. Sistem penggunaan Bee Accounting yang user friendly membuat Bee Accounting menjadi mudah untuk digunakan. Berikut beberapa langkah mudah dalam penggunaan dan implementasi Bee Accounting. Dengan 4 langkah mudah dibawah ini anda akan langsung bisa melihat laporan keuangan anda tanpa anda harus dipusingkan masalah akuntansi.

Tugas : Point Of Sale & Accounting Software (MYOB)

 MYOB ACCOUNTING
MYOB accounting merupakan program aplikasi akuntansi yang digunakan untuk mengotomatisasikan pembukuan secara lengkap, cepat dan akurat.  Myob Limited mengeluarkan MYOB Accounting hadir dengan sejumlah fasilitas namun tetap memiliki karakteristik yang sama, yaitu pemasukkan daftar akun, pengaturan (setup), mengelola bank, pelanggan, pemasok, produk sampai pada laporan keuangan seperti neraca,laba rugi dan sebagainya.MYOB (Mine Your Own Bisnisses) Accounting adalah sebuah software akuntansi yang diperuntukkan bagi usaha kecil menengah (UKM) yang dibuat secara terpadu (integrated software).

Senin, 09 Mei 2016




TUGAS III

Application Service Library 

Aplikasi Layanan Perpustakaan (ASL) adalah domain publik kerangka praktik terbaik yang digunakan untuk standarisasi proses dalam Aplikasi Manajemen , disiplin memproduksi dan memelihara sistem informasi dan aplikasi . Istilah "perpustakaan" digunakan karena ASL disajikan sebagai satu set buku yang menggambarkan praktik terbaik dari IT industri. Hal ini dijelaskan dalam beberapa buku dan artikel (banyak dari mereka hanya tersedia di Belanda ) dan pada situs resmi dari ASL BiSL Foundation.

ASL erat terkait dengan kerangka kerja ITIL (untuk IT Service Management ) dan BiSL (untuk Manajemen Informasi dan Manajemen Fungsional ) dan ke Capability Maturity Model (CMM).

Kerangka ASL dikembangkan karena ITIL, dipeluk oleh departemen infrastruktur TI, terbukti tidak memadai untuk Manajemen Aplikasi: pada waktu itu, ITIL tidak memiliki pedoman khusus untuk aplikasi desain, pengembangan, pemeliharaan dan dukungan. Versi ITIL baru, terutama V3 , semakin membahas Pengembangan Aplikasi dan Aplikasi Manajemen domain; ASL BiSL Foundation telah menerbitkan kertas putih membandingkan ITIL v3 dan ASL .

ASL dikembangkan pada akhir tahun sembilan puluhan di Belanda , awalnya sebagai model R2C proprietary, yang berkembang menjadi ASL pada tahun 2000. Pada tahun 2001 itu disumbangkan oleh IT Service Provider PinkRoccade ke ASL Foundation, sekarang ASL BiSL Foundation. Versi ASL2 diterbitkan pada tahun 2009.

Tujuan dari ASL adalah untuk membantu dalam profesionalisasi Manajemen Aplikasi.



 Ada 4 proses dalam cluster Dukungan Aplikasi. Proses dalam cluster Organisasi Layanan mendukung penggunaan sehari-hari dari sistem informasi. Proses dalam cluster ini adalah:


Proses ini telah juga telah didefinisikan dalam kerangka ITIL. Proses serupa, tetapi dilihat dari sudut pandang yang lain, oleh karena itu kegiatan di masing-masing proses ini mungkin berbeda dari kegiatan dalam ITIL lingkungan.



ASL2 Maturity Model

Ada juga ASL2 Maturity Model dengan 5 tingkat kematangan proses:

  • Level 1 - Initial
  • Level 2 - Repeatable
  • Level 3 - Defined dan dikelola
  • Level 4 - Mengoptimalkan
  • Level 5 - Chain  


Framework ASL


·         aplikasi manajemen digambarkan sebagai manajemen pemeliharaan,peningkatan dan renovasi aplikasi dengan cara suara-ekonomi bisnis. Itu prinsip kunci di sini adalah untuk mendukung proses bisnis menggunakan sistem informasi untuk siklus hidup dari proses bisnis. Dua sudut pandang penting dapat dibedakan di sini:
1. perspektif 'mendukung proses bisnis menggunakan sistem informasi'. Ini berarti menjaga aplikasi dan berjalan dan memastikan bahwa mereka mendukung organisasi kegiatan sehari-hari. Secara praktis, ini melibatkan menyediakan layanan terus menerus dengan membuat perusahaan kesepakatan tentang tingkat layanan dan memulihkan tingkat layanan yang disepakati secepat mungkin jika penyimpangan ditetapkan; menciptakan tingkat tinggi aksesibilitas bagi pertanyaan dan komentar dari klien tentang layanan; mencegah gangguan dan memfasilitasi layanan baru dengan menanggapi sebagai layanan ICT penyedia dalam waktu yang baik. Fokusnya adalah karena pada layanan, layanan yang disediakan dan yang (bersama-sama dengan manajemen infrastruktur) memfasilitasi penggunaan aplikasi. Dalam hal ini biaya umum jumlah 10 - 20% dari biaya keseluruhan manajemen aplikasi.

·         2. 'siklus hidup proses bisnis'. Organisasi berkembang, lingkungan dan pasar berubah. Untuk terus berfungsi secara optimal, sistem informasi pendukung harus tumbuh dengan organisasi. Ini melibatkan meningkatkan aplikasi untuk saat ini dan masa depan teknis dan persyaratan fungsional. Proses aplikasi yang berhubungan umumnya account untuk sebagian besar biaya manajemen aplikasi.
      Kita dapat membedakan proses operasional, taktis dan strategis di kedua daerah. Hal ini menyebabkan mengilustrasikan kerangka ASL. Lingkaran dan persegi panjang di tengah masing-masing mewakili cluster proses. Tiga tingkat dibedakan: operasional, taktis dan strategis.
 

·         Tingkat operasional mengakui dua kelompok proses:
● 'pemeliharaan' dari aplikasi: proses yang memastikan ketersediaan optimum aplikasi saat ini sedang digunakan untuk mendukung proses bisnis dengan minimal sumber daya dan gangguan dalam operasi.

·        
● 'tambahan / renovasi' aplikasi: proses yang beradaptasi aplikasi dengan keinginan baru dan persyaratan dalam menanggapi perubahan organisasi dan lingkungannya. yang diperlukan penyesuaian dilakukan terhadap perangkat lunak, model data dan dokumentasi.

     Tingkat taktis terdiri dari proses manajemen secara keseluruhan. Proses ini menyediakan untuk kemudi kolektif dari proses operasional untuk 'layanan' di satu sisi dan 'aplikasi' lain. Baik di tingkat operasional strategis dan menyediakan proses manajemen. masa depan dan sehari-hari realitas demikian dijamin dalam proses ini.Tingkat strategis direktif juga membedakan dua kelompok proses, berdasarkan pembagian ke dalam 'Angle layanan' dan 'sudut aplikasi'. Membuat layanan dan penyedia layanan yang lebih fleksibel.
Cluster proses di tingkat strategis adalah:
● Organisasi Manajemen Siklus (OCM): proses yang bertujuan untuk mengembangkan visi masa depan organisasi jasa ICT dan menerjemahkan visi yang menjadi kebijakan untuk pembaruannya.

● Aplikasi Cycle Management (ACM): proses yang berfungsi untuk membentuk strategi jangka panjang untuk berbagai aplikasi yang sesuai dalam keseluruhan penyediaan informasi organisasi dalam kaitannya kebijakan jangka panjang organisasi.






TUGAS II

software maintenance maturity model


CMM adalah model pembangunan atau pengembangan yang dipakai setelah terjadinya pengumpulan data dari sebuah organisasi tertentu. CMM ini merupakan tingkatan formal, syarat dan pengoptimalisasian terhadap proses-proses, dari sejumlah latihan untuk menyusun langkah-langkah, untuk menangani satuan hasil, dan mengaktifkan optimalisasi proses-proses.



Ketika CMM diaplikasikan kedalam sebuah Proses Pembangunan Software yg berjalan, CMM menyediakan sebuah pendekatan yang berguna untuk meningkatkan efektifitas terhadap proses yg berjalan tersebut. CMM juga dipakai sebagai model umum untuk meningkatkan bisnis proses sebuah organisasi pada berbagai area berbeda, seperti: software engineering, project management, system engineering,software maintenance, risk management, IT, pelayanan, bisnis proses secara umum, dan cocok untuk melihat sebuah hasil akhir dari sebuah kebutuhan.



Maturity Model merupakan kumpulan dari level-level terstruktur yang mendefinisikan tingkat baik/buruk perilaku, percobaan/pelatihan, dan proses dari organisasi. Maturity Model dapat terdiri atas:



  • Sebuah lokasi untuk memulai

  • Keuntungan dari pengalaman organisasi

  • Bahasa umum dan Penyebaran visi organisasi
  •   Framework untuk memilah prioritas aksi-aksi

  • Sebuah teknik yang mendefinisikan kemajuan apa yang berarti pada organisasi


Maturity Model dapat juga dipakai sebagi sebuah ‘benchmark’ untuk perbandingan dan untuk mendapatkan pemahaman umum. Contoh: Pada proses pemilihan kontraktor software developer.

 



Maturity model dapat digunakan untuk memetakan :
1. Status pengelolaan TI perusahaan pada saat itu.
2. Status standart industri dalam bidang TI saat ini (sebagai pembanding)
3. Status standart internasional dalam bidang TI saat ini (sebagai pembanding)
4. Strategi pengelolaan TI perusahaan (ekspetasi perusahaan terhadap posisi pengelolaan TI perusahaan).

Tingkat kemampuan pengelolaan TI pada skala maturity dibagi menjadi 6 level :
1. Level 0 (Non-existent)
Perusahaan tidak mengetahui sama sekali proses teknologi informasi di perusahaannya.

2. Level 1 (Initial Level)
Pada level ini, organisasi pada umumnya tidak menyediakan lingkungan yang stabil untuk mengembangkan suatu produk baru. Ketika suatu organisasi kelihatannya mengalami kekurangan pengalaman manajemen, keuntungan dari mengintegrasikan pengembangan produk tidak dapat ditentukan dengan perencanaan yang tidak efektif, respon sistem. Proses pengembangan tidak dapat diprediksi dan tidak stabil, karena proses secara teratur berubah atau dimodifikasi selama pengerjaan berjalan beberapa form dari satu proyek ke proyek lain. Kinerja tergantung pada kemampuan individual atau term dan variasi dengan keahlian yang dimilikinya. 

3. Level 2 (Repeatable Level)
Pada level ini, kebijakan untuk mengatur pengembangan suatu proyek dan prosedur dalam mengimplementasikan kebijakan tersebut ditetapkan. Tingkat efektif suatu proses manajemen dalam mengembangankan proyek adalah institutionalized, dengan memungkinkan organisasi untuk mengulangi pengalaman yang berhasil dalam mengembangkan proyek sebelumnya, walaupun terdapat proses tertentu yang tidak sama. Tingkat efektif suatu proses mempunyai karakteristik seperti; practiced, dokumentasi, enforced, trained, measured, dan dapat ditingkatkan. Product requirement dan dokumentasi perancangan selalu dijaga agar dapat mencegah perubahan yang tidak diinginkan.

4. Level 3 (Defined Level)
Pada level ini, proses standar dalam pengembangan suatu produk baru didokumentasikan, proses ini didasari pada proses pengembangan produk yang telah diintegrasikan. Proses-proses ini digunakan untuk membantu manejer, ketua tim dan anggota tim pengembangan sehingga bekerja dengan lebih efektif. Suatu proses yang telah didefenisikan dengan baik mempunyai karakteristik; readiness criteria, inputs, standar dan prosedur dalam mengerjakan suatu proyek, mekanisme verifikasi, output dan kriteria selesainya suatu proyek. Aturan dan tanggung jawab yang didefinisikan jelas dan dimengerti. Karena proses perangkat lunak didefinisikan dengan jelas, maka manajemen mempunyai pengatahuan yang baik mengenai kemajuan proyek tersebut. Biaya, jadwal dan kebutuhan proyek dalam pengawasan dan kualitas produk yang diawasi. 

5. Level 4 (Managed Level)
Pada level ini, organisasi membuat suatu matrik untuk suatu produk, proses dan pengukuran hasil. Proyek mempunyai kontrol terhadap produk dan proses untuk mengurangi variasi kinerja proses sehingga terdapat batasan yang dapat diterima. Resiko perpindahan teknologi produk, prores manufaktur, dan pasar harus diketahui dan diatur secara hati-hati. Proses pengembangan dapat ditentukan karena proses diukur dan dijalankan dengan limit yang dapat diukur.

6. Level 5 (Optimized Level)
Pada level ini, seluruh organisasi difokuskan pada proses peningkatan secara terus-menerus. Teknologi informasi sudah digunakan terintegrasi untuk otomatisasi proses kerja dalam perusahaan, meningkatkan kualitas, efektifitas, serta kemampuan beradaptasi perusahaan. Tim pengembangan produk menganalisis kesalahan dan defects untuk menentukan penyebab kesalahannya. Proses pengembangan melakukan evaluasi untuk mencegah kesalahan yang telah diketahui dan defects agar tidak terjadi lagi.


Beberapa aspek-aspek penting dalam perencanaan perawatan adalah:
1) Perencanaan
Perencanaan adalah kegiatan untuk menjalankan fungsi

1. Aspek-Aspek Penting Dalam Perawatan Terencana
perawatan yang dilakukan secara terorganisir. Perencanaan perawatan terdiri dari:
• Penyusunan secara struktural kegiatan perawatan yang akan dijalankan
• Penyusunan sistem perawatan
• Kegiatan pengontrolan dan pencatatan
• Penerapan sistem perawatan dan pencatatan

Sedangkan faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam penyusunan perencanaan perawatan adalah ruang lingkup pekerjaan, prioritas pekerjaan, kebutuhan ketrampilan, kebutuhan tenaga kerja, kebutuhan peralatan dan kebutuhan material.

2. Pemeriksaan
Kegiatan pemeriksaan yang telah tersusun dengan teratur akan menjaga performa mesin dalam keadaaan optimal dan dapat berfungsi sesuai standar. Kegiatan pemeriksaan terdiri dari:
• Pemeriksaan operasional
• Pemeriksaan pemberhentian
• Pemeriksaan overhaul.

3. Pemilihan komponen/ suku cadang
Pemilihan komponen atau suku cadang merupakan kegiatan yang paling penting dalam menjalankan kegiatan overhaul. Dengan pemilihan suku cadang yang sesuai dengan spesifikasi mesin akan menjaga mesin tetap dapat bekerja dalam kondisi standar.

 
2). Perawatan Pencegahan (Preventive Maintenance)
      Perawatan pencegahan (preventive maintenance) adalah kegiatan pemeliharaan dan perawatan yang dilakukan untuk mencegah timbulnya kerusakan-kerusakan yang tidak terduga dan menemukan kondisi atau keadaan yang dapat menyebabkan peralatan produksi mengalami kerusakan pada waktu digunakan dalam proses produksi (Sofyan, 1998: 90). Dalam melakukan cara perawatan ini, ada beberapa aktifitas yang dapat dilakukan yaitu: pemeriksaan secara berkala dan penggantian komponen yang sudah hampir rusak atau sudah rusak. Untuk penggantian komponen yang telah rusak ini akan terjadi penambahan pada biaya produksinya. Sehingga dalam menetapkan komponen-komponen yang akan dijadwalkan penggantiannya harus merupakan komponen yang kritis dalam sistem produksi tersebut.
     Berdasarkan Asrori (2007: 3) kegiatan perawatan yang dilakukan dalam perawatan preventif adalah suatu bentuk pelaksanaan terjadual. Oleh karena itu siklus perawatan menjadi penting keberadaannya. Klasifikasi perawatan mesin dalam preventive maintenance dibagi menjadi 4 kategori (keadaan), yaitu:
(1) Inspeksi (I)
Inspeksi adalah tindakan pengecekan atau pemeriksaan secara berkala kondisi suatu peralatan atau alat bantu untuk mendapatkan informasi tentang keadaan mesin atau alat bantu tersebut yang hasilnya dapat digunakan untuk pertimbangan dalam melakukan kegiatan perawatan selanjutnya.
(2) Small Repair (S)
Small repair adalah suatu tindakan perawatan ringan yang menitik beratkan pada bagian terkecil (komponen) dari suatu mesin. Kegiatan small repair merupakan perbaikan tindak lanjut dari kerusakan ringan yang ditemukan pada waktu kegiatan inspeksi dan tidak memerlukan waktu dan biaya yang tinggi.
(3) Medium Repair (M)
Medium repair adalah suatu tindakan perawatan tingkat menengah yang lebih fokus pada kerusakan bagian dari suatu mesin akibat aus atau akibat kecelakaan yang perbaikannya memerlukan biaya yang tinggi dan waktu kerja yang relatif lama.
(4) Overhaul (O)
Overhaul adalah suatu tindakan perawatan pada yang bersifat menyeluruh pada bagian mesin. Tindakan yang biasanya dilakukan waktu overhaul adalah pembetulan-pembetulan komponen yang aus/ rusak atau penggantian komponen.

3). Perawatan Korektif (Corrective Maintenance)
Menurut Sofyan (1987: 90) perawatan korektif (corrective maintenance) adalah kegiatan pemeliharaan dan perawatan yang dilakukan setelah terjadi kerusakan atau kelainan pada fasilitas atau peralatan yang ditemukan selama masa waktu preventive maintenance.
Dalam perbaikan dapat dilakukan peningkatan-peningkatan sedemikian rupa, seperti melakukan perubahan atau modifikasi rancangan agar peralatan menjadi lebih baik dan mencapai standar kerja yang dapat diterima.

Perawatan korektif yang dilakukan meliputi antara lain:
a. Perbaikan-perbaikan yang dilakukan untuk menghilangkan bagian-bagian yang kurang ekonomis dari mesin atau mengurangi frekuensi terjadinya kerusakan tersebut
b. Melakukan perbaikan setelah jangka waktu tertentu

Beberapa jenis perawatan korektif adalah:
1) Shutdown Maintenance
Shutdown maintenance adalah pemeliharaan yang hanya dilakukan selama
mesin tersebut berhenti beroperasi atau mesin tersebut terpaksa diberhentikan karena kerusakan yang serius.
2) Breakdown maintenance
Pekerjaan perawatan dilakukan setelah terjadi kerusakan pada peralatan,
dan untuk memperbaikinya harus disiapkan suku cadang, material, alat-alat
dan tenaga kerjanya.